Menulis itu Butuh Mood
Seperti judul postingan ini ‘Menulis itu butuh mood’, demikian juga yang terjadi dengan diri ini. Setelah mencoba beberapa kali paragraph diketikkan disini. Tetap saja tombol ‘Backspace’ yang dominan dipencet dan akhirnya putih bersih lagi.
Untung saja pengetikan tulisan ini tidak dilakukan 10 tahun yang lalu, dimana mesin ketik masih menguasai dunia. Bisa jadi banyak kumpulan kertas A4 disekelilingku dengan gaya bak bola EURO 2008 yang mau digelar. Belum lagi aktivis lingkungan akan sewot dengan diriku yang katanya ’save environment’, tapi kok ya masang tulisan ‘jangan injak rumput’ di pohon dengan hadiah paku ukuran 5 inch bersama papan tulisannya. Aktivis yang aneh ![]()
Menulis saja butuh mood, apalagi menulis sebuah review. Entah review sebuah produk atau review sebuah blog. Yang pasti jangan minta saya review blog anda, karena itu bakal ditolak matang-matang. Kegemaran saya soal review sebatas membacanya saja, belum sampai mencoba-nya. Itupun kalau yang di review ada di dekat-dekat saya. Kalau tidak ada ya harap maklum tidak akan mencobanya. Kecuali anda memberi saya gratisan produk-nya. Tapi jangan bilang ke KPK, soalnya bisa-bisa saya kena pasal gratifikasi.
Tetapi tulisan ini ternyata dibangun dari sebuah ketidak mood-an. Bahkan sampai 3 paragraph diatas tak satupun tombol backspace disentuh kecuali untuk membenarkan grammar dalam bahasa Indonesia yang disempurnakan. Bahasa Indonesia itu sendiri memang hebat, karena dipakai oleh 200 juta rakyat Indonesia dan hanya kalah dengan Bahasa Inggris. Tapi sayang, nilai dari bahasa kita ini hanya di tingkat lokal. Kalau di tingkat internasional masih jauh. Tapi tidak usah merasa minder, karena inilah bahasa pemersatu kita.
Menulis itu juga butuh tenaga, otak dan tangan yang terampil. Kalau gaya mengetik kita masih dominan melihat keyboard, bisa dikatakan itu kurang terampil. Tetapi akan berbeda jika mengetiknya di dominan sambil melihat layar monitor dimana huruf demi huruf tersusun. Untuk bisa terampil seperti ini mungkin kita harus belajar dan les private dengan teman saya yang sedang berbunga-bunga dalam minggu-minggu ini.
Menulis itu butuh mood, dan untuk menumbuhkan mood salah satu caranya adalah dengan mendengarkan lagu-lagu kesayangan. Kalau dirasa koleksi lagu mp3 anda belum cukup, mungkin bisa main ke lapak di pinggir jalan untuk melihat-lihat yang mana yang sekiranya cocok. Tapi hati-hati karena polisi lagi gencar sweeping produk bajakan.
Popularity: 3% [?]
8 Comments so far ...
dasiat mas
terbukti menulis itu indah, menulislah dengan riang gembira, niat nulis satu bait eh nular ke bait berikutnya
beruntunglah org2 yg “dibekali” bakat menulis … gak kayak gw yg cuman bisa kopi pes …
acakaduts last blog post..MSc and PhD Studentships in Brain Surgery Simulation, High Performance Computing, UK
weleh-weleh wong lagi sedih mau ditinggal sang peri koq malah dibilang sedang berbunga-bunga
nulis ga mood hasilnya 6 paragraf. Gimana kalo mood….
Tigiss last blog post..Feedjit, Gambar Porno, Cewek Pipis, dan Pencitraan Sex Pria
Ibarat pisau atau pedang, dari saat ditempa dan kemudian dingin diasah, menulis juga perlu dilatih dan dibiasakan, lebih dari sekedar mood.. human skills are beyond a mood can contribute.
Keep up the enthusiasm.. and nice to have found this blog, and regards from West Africa.
wah, baru sadar juga ya.. ternyata yang pakai bahasa indonesia cukup banyak.
Riri Audiyas last blog post..Relatif..
sepakat ma lu. susah kalau ga ada mut
monsterikans last blog post..1.4 Era Violet
[...] ekstra untuk memodifikasinya menjadi sebuah kenikmatan lagi. Sudah disini dulu, karena kenikmatan menulis artikel ini menjadi-jadi. Dan sebelum menuju puncak harus dihentikan. Jadi, apakah anda di luar [...]
[...] SEO sana dan SEO sini. Tapi makin lama malah makin dahi berkerut dan ujung-ujungnya menurunkan mood untuk menulis dan akhirnya ngeblog menjadi tidak nikmat. Kini saya akan share sedikit tips untuk [...]